Minggu, 19 Desember 2010

makalah masalah gizi di Indonesia

MAKALAH GIZI
MASALAH GIZI DI INDONESIA
DAN
MASALAH GIZI PADA BAYI






DISUSUN OLEH :
• Dwi Retno Anggraena
• Hasan
• Ina Rusniawati
• Santi Wijaya
• Siti Nuraini
• Yeni Febrilia

Tk. II Keperawatan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) YATSI
Jl. Raya Prabu Siliwangi (Jl. Raya Pasar Kemis) Km. 3
TANGERANG-BANTEN
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyusun tugas ini tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi. Penulisan makalah dengan tema “Masalah Gizi di Indonesia dan Masalah Gizi pada Bayi”. Selain itu, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan penjelasan bagaimana masalah gizi di Indonesia terutama pada bayi.
Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan terutama disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat kerja keras dan usaha, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang telah memberikan dorongan baik moril maupun materil, Bapak Sutanto, SKM, MKm dan Rifki Kurniawan, S.Gz. Selaku dosen Gizi sekaligus pembimbing yang telah membantu dan mendorong semangat kami dalam menyelesaikan tugas ini.
Akhir kata kami semua berharap semoga tugas ini dapat bermanfaat dan berguna, serta dapat memenuhi persyaratan demi kelengkapan tugas ini.





Tangerang, Oktober 2010
Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………... i
DAFTAR ISI……………………………………………............................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………... 1
1.2 Tujuan………………………………………………………………………………... 2
1.3 Ruang Lingkup……………………………………………………………………….. 2


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Gizi…………………………………………………………………………... 3
2.2 Masalah Gizi Utama di Indonesia……………………………………………………. 3
2.2.1 Anemia Gizi Besi…………………………………………………………………. 3
2.2.2 Kurang Vitamin A………………………………………………………………… 6
2.2.3 Gangguan Akibat Kekurangan Iodium…………………………………………… 9
2.2.4 Kurang Energi Protein…………………………………………………………… 11
2.2.5 Obesitas………………………………………………………………………….. 17


BAB III ISI
3.1 Prinsip Gizi Seimbang pada Bayi……………………………………………………. 20
3.2 Macam-Macam Makanan Bayi……………………………………………………… 20
3.2.1 ASI………………………………………………………………………………. 20
3.2.2 MPASI…………………………………………………………………………… 25
3.3 Cara Pengelolaan Makanan Bayi……………………………………………………. 26
3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian Makanan pada Bayi.......................... 28
3.5 Pengaruh Status Gizi Seimbang Bagi Bayi.................................................................. 29
3.6 Dampak Kelebihan dan Kekurangan Gizi pada Bayi.................................................. 30

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………. 31

DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Sebagai negara yang sedang berkembang dan sedang membangun, bangsa Indonesia masih memiliki beberapa ketertinggalan dan kekurangan jika dibandingkan negara lain yang sudah lebih maju. Di bidang kesehatan, bangsa Indonesia masih harus berjuang memerangi berbagai macam penyakit infeksi dan kurang gizi yang saling berinteraksi satu sama lain menjadikan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia tidak kunjung meningkat secara signifikan. Di sebagian besar daerah Indonesia, penyakit infeksi seperti, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, dan campak masih merupakan penyakit utama dan masih menjadi penyebab utama kematian. Tingginya angka kesakitan dan kematian Ibu dan Anak Balita di Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi. Ironisnya, dibeberapa daerah lain atau pada sekelompok masyarakat Indonesia yang lain terutama di kota-kota besar, masalah kesehatan masyarakat utama justru dipicu dengan adanya kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas di beberapa daerah di Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang kesehatan. Pendek kata, masih tingginya prevalensi kurang gizi di beberapa daerah dan meningkatnya prevalensi obesitas yang dramatis di beberapa daerah yang lain akan menambah beban yang lebih komplek dan harus dibayar mahal oleh bangsa Indonesia dalam upaya pembangunan bidang kesehatan, sumberdaya manusia dan ekonomi.




1.2 Tujuan

Dengan disusunnya makalah ini, kami dapat menuangkan apa pun yang berhubungan dengan bahan diskusi, sehingga makalah ini dapat berguna bagi pembaca.

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
• Sebagai tugas mata kuliah Gizi
• Menjelaskan tentang Masalah Gizi di Indonesia dan Masalah Gizi pada Bayi
• Sebagai pengetahuan para pembaca
• Sebagai informasi untuk para pembaca

1.3 Ruang Lingkup

Dalam makalah ini diuraikan dan dijelaskan mengenai “Masalah Gizi di Indonesia dan Masalah Gizi pada Bayi”. Selain itu, diterangkan pula faktor-faktor dan penyebab dari masalah gizi tersebut Serta beberapa hal mengenai gizi yang terdapat dalam makalah ini.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gizi
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi, (Supriadi dkk, 2001).


2.2 Masalah Gizi Utama di Indonesia
Sampai saat ini di Indonesia ada lima masalah gizi utama yaitu Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA) , Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dan Obesitas. Energi dan protein merupakan zat gizi makro, sedangkan zat besi, vitamin A dan Iodium merupakan zat gizi mikro. Pada tulisan ini akan dibahas masalah gizi mikro yang utama terjadi di Indonesia. Zat gizi mikro merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, namun esensial untuk tubuh. Kekurangan salah satu zat ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dan dampaknya tidak akan dapat diperbaiki pada tahapan kehidupan selanjutnya.


2.2.1 Anemia Gizi Besi (AGB)
Anemia sangat umum dijumpai di Indonesia, prevalensinya masih sangat tinggi pada kelompok-kelompok tertentu. Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin didalam darah lebih rendah dari nilai normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. Menurut WHO (1996), anak umur 6 bulan – 5 tahun dikatakan anemia jika mempunyai kadar hemoglobin darah kurang 110 g/L.

a. Prevalensi Anemia Gizi Besi
Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 40% dari penduduk di dunia (lebih dari 2 milyar jiwa) terkena anemia. Kelompok yang paling tinggi prevalensinya adalah wanita hamil dan orang tua yaitu sekitar 50%, bayi dan anak sampai umur 2 tahun 48%, anak sekolah 40%, wanita tidak hamil 35%, adolescent 30-55%, dan anak prasekolah 25%. Prevalensi anemia di negara-negara berkembang sekitar empat kali lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju. Diperkirakan prevalensi anemia untuk anak sekolah di negara berkembang dan maju adalah 53% dan 9%, anak prasekolah 42% dan 17% (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi AGB di Indonesia pada satu tahun pertama kehidupan masih diatas 60%, walaupun angkanya menurun sejalan dengan bertambahnya usia anak, namun prevalensinya masih tinggi yaitu 32.1 % pada anak usia 48-59 bulan. Menurut WHO anemia dikatakan menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi di suatu negara yaitu < 15% adalah rendah, 15-40% adalah sedang dan >40% adalah tinggi (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003)

b. Penyebab Anemia Gizi Besi
Umur sel darah merah sekitar 120 hari, sumsum tulang akan mengganti sel darah merah yang tua dengan membuat sel darah merah yang baru. Kemampuan membuat sel darah merah baru sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah tua yang hilang, sehingga jumlah sel darah merah selalu dipertahankan cukup banyak didalam darah. Penyebab AGB utama yang terjadi terutama di negara-negara yang sedang berkembang adalah penyerapan zat besi. Sumber terbaik dari besi adalah makanan yang berasal dari daging, ikan dan telur, namun konsumsinya rendah pada masyarakat yang berpenghasilan rendah. Jumlah zat besi yang diserap dari makanan hewani adalah sekitar 25%, sedangkanjumlah besi yang diserap dari biji-bijian dan kacang-kacangan hanya 2-5%. Faktor risiko terjadi anemia adalah pada bayi yang lahir premature atau kekurangan zat besi pada masa kehamilan. Bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah mempunyai simpanan zat besi yang rendah, yang akan habis pada umur 2-3 bulan.Sehingga diperlukan suplementasi zat besi ketika mereka berumur 2 bulan. Suatu studi perbandingan yang dilakukan di Honduras dan Swedia pada bayi umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif menunjukkan bahwa konsentrasi ferritin (yang menunjukkan cadangan zat besi) dari bayi-bayi di Honduras setengah dari bayi di Swedia. Hal ini menggambarkan rendahnya akumulasi dari zat besi ketika masih didalam kandungan. Pada anak-anak, AGB diperberat keadaannya oleh infestasi cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitannya sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari badan bersama tinja. Setiap hari diperkirakan satu ekor cacing tambang memakan 0.03 – 0.15 ml darah, jika didalam tubuh terdapat 100 ekor cacing tambang, akan menyababkan kehilangan darah sekitar 3 – 15 ml per hari.

c. Konsekuensi dari Anemia Gizi Besi
Gejala dari kekurangan zat besi pada individu tidak spesifik. Kekurangan zat besi pada tingkat sedang biasanya didiagnosis dari penilaian di laboratorium. Kekurangan zat besi pada tingkat berat sama dengan jenis anemia lainnya yaitu mudah capek, nafsu makan menurun, atau terlihat pucat. Konsekuensi dari AGB adalah menurunnya produktifitas pada orang dewasa dan pada anak-anak terhadap perkembangan mentalnya. Ulasan dari berbagai hasil penelitian menunjukkan anak balita yang menderita AGB mempunyai skor mental dan motor pada uji Bayley lebih rendah dari anak yang tidak menderita AGB. Setelah disuplementasi dengan zat besi terdapat kenaikan skor mental dan motor yang cukup berarti. Pada anak prasekolah (usia 3-6 tahun) yang menderita AGB menyebabkan pemusatan perhatian dan proses belajar rendah. Setelah disuplementasi dengan zat besi anak yang AGB pemusatan perhatian dan proses belajarnya menjadi lebih baik Penelitian yang dilakukan pada binatang menunjukkan bahwa AGB mempengaruhi isi dan distribusi besi otak dan menyebabkan perubahan prilaku. Walaupun penelitian pada binatang dapat misleading, namun berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bayi yang menderita AGB terlambat perkembangan psikomotornya, terutama pada kemampuan berbicara dan keseimbangan tubuh. Pada bayi-bayi ini suplementasi zat besi tidak cukup untuk mengembalikan pengaruh negatif akibat kekurangan zat besi, walaupun kadar hematologi darah sudah kembali normal. Hal ini menunjukkan dampak dari AGB pada masa bayi mungkin berhubungan dengan kemampuan kognitif pada masa-masa selanjutnya.


2.2.2 Kurang Vitamin A (KVA)
Vitamin A dibutuhkan untuk memelihara fungsi penglihatan, pertumbuhan, reproduksi, perkembangan tulang, kekebalan, mengurangi kesakitan dan kematian anak. Tanda-tanda klinis dari kekurangan vitamin A adalah rabun senja, bintik Bitot, dan xeropthalmia.

a. Prevalensi kurang vitamin A
Prevalensi dari defisiensi klinis diperkirakan dari rabun senja, bintik Bitot, dan xeropthalmia. Prevalensi klinis KVA di Asia cukup rendah, berkisar antara 0.5% di Srilangka sampai 4.6% di Bangladesh pada anak-anak (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi lebih dari 1% dianggap menjadi masalah kesehatan masyarakat. Di Indonesia prevalensi kekurangan vitamin A pada tahun 1970 adalah berkisar antara 2-7%, turun menjadi 0.33% pada tahun 1992, dan dinyatakan bebas masalah xeropthalmia, namun tetap perlu waspada karena 50% balita masih menunjukkan kadar vitamin dalam serum <20mcg/dl (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003). b. Penyebab kurang vitamin A Faktor-faktor penyebab kekurangan vitamin A yang umum ditemukan pada anakanak diilustrasikan dalam Tabel. Faktor penyebab dibagi atas tiga yaitu langsung, tidak langsung dan akar masalah (Unicef 1990 dalam ACC/SCN, 1994). Penyebab utama kekurangan vitamin A adalah konsumsi makanan hewani yang banyak mengandung retinol masih rendah. Minyak ikan, hati dan ginjal, susu merupakan sumber vitamin A. Sedangkan sayur-sayuran yang berwarna hijau dan buah-buahan berwarna kuning banyak mengandung beta karoten yang merupakan provitamin A. Betakaroten yang berasal dari buah-buahan dan umbi yang berwarna kuning, seperti ubi jalar merah lebih mudah diserap dibandingkan dari sayur-sayuran. Vitamin A merupakan salah satu vitamin A yang larut dalam lemak, konsumsi lemak yang rendah dapat menyebabkan vitamin A dalam makanan susah untuk diserap. Konsumsi sayur-sayuran dengan cara ditumis dapat meningkatkan absorbsi dari vitamin A yang terdapat pada sayur-sayuran. Air susu ibu (ASI) merupakan sumber utama vitamin A pada bayi. Tabel. Faktor-faktor penyebab kekurangan vitamin A pada anak-anak. Faktor-faktor Penyebab Penyebab langsung - Vitamin A dan lemak rendah dalam konsumsi - Kejadian diare dan campak tinggi - Berat bayi lahir rendah - Kekurangan vitamin A pada ibu - Meneteki dalam waktu singkat dan pemeberian ASI tidak eksklusif - MP ASI tidak cukup dan cara pemberian makan tidak benar Penyebab tidak langsung - Infrastruktur kesehatan yang tidak memadai - Produksi makanan sumber vitamin A rendah - Tidak ada tanaman pekarangan - Pemasaran/distribusi/penyimpanan makanan sumber vit. A buruk - Pola pengasuhan anak tidak benar - Distribusi makanan, kesehatan dalam keluarga salah - Pendidikan dan kesadaran ibu Akar masalah - Kemiskinan - Sedikit atau tidak ada tanah yang produktif - Pengaruh musim pada penyakit dan ketersediaan makanan - Pengaruh lingkungan lainnya - Pengaruh social budaya lainnya - Status wanita - Pengaruh system politik Gejala klinis KVA dari bayi yang mendapat ASI jarang ditemukan, namun status vitamin A yang tidak baik pada ibu merupakan faktor risiko mulai terjadinya KVA pada bayi. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak cukup atau cara pemberian makanan yang salah dapat menyebabkan kekurangan vitamin A. Penyebab tidak langsung dari kekurangan vitamin A berpengaruh terhadap kejadian penyebab langsung. Contohnya produksi makanan vitamin A yang rendah menyebabkan ketersediaan makanan tersebut juga rendah sehingga konsumsi makanan sumber vitamin A menjadi rendah. Akar masalah dari kekurangan vitamin A mempengaruhi penyebab langsung dan tidak langsung, misalnya kemiskinan membuat keluarga tidak dapat membeli makanan sumber vitamin A dan tidak dapat memproduksi makanan sumber vitamin A. c. Konsekuensi kurang vitamin A Berbagai penelitian menunjukan kekurangan vitamin A meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada bayi, anak, dan ibu hamil; mempengaruhi pertumbuhan pada anak; dan berpengaruh terhadap kejadian anemia dengan cara mempengaruhi transpor zat besi dan sintesis hemoglobin. Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan kekurangan vitamin A dan hubungannya dengan hasil dari suplementasi yang diberikan adalah: 1. Mortalitas (angka kematian). Suplementasi vitamin A mencegah perkembangan terjadinya Xeropthalmia dan konsekuensinya juga untuk mencegah kematian pada individu yang rentan. 2. Morbiditas (angka kesakitan). Hasil-hasil penelitian menunjukkan pengaruh suplementasi vitamin A pada morbiditas pada populasi yang kekurangan vitamin A secara sub klinis. Hasil meta analisis menunjukkan suplementasi vitamin A dosis tinggi mengurangi angka kesakitan diare dan campak 23% untuk bayi dan anak umur 6 bulan sampai 5 tahun Diare yang parah dapat dikurangi dengan suplementasi vitamin A dosis rendah pada anak-anak gizi buruk 3. Kekebalan tubuh. Bukti-bukti menunjukkan suplementasi vitamin A pada anak-anak dengan nilai serum vitamin A yang rendah dapat meningkatkan kekebalan tubuh, termasuk respon terhadap vaksinasi. 2.2.3. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) Gangguan akibat kurang iodium adalah kekurangan gizi paling tua. Di China, antara tahun 2838 – 2698 sebelum masehi gondok endemik sudah diketahui. GAKI mempunyai bermacam-macam efek yang serius pada kesehatan seperti gondok, kretin, gangguan perkembangan kognitif dan pertumbuhan yang tidak dapat diperbaiki, kematian bayi, berat bayi lahir rendah, dan kematian pada saat lahir. a. Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Iodium WHO, UNICEF dan International Coordinating Committee on Iodine Deficiency Disorders (ICCIDD) mengklasifikasikan dari 191 negara, 68.1 % dengan masalah GAKI, 10.5% sudah dapat mengatasi masalah GAKI dan sisanya tidak diketahui masalah besarnya masalah GAKI (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi secara nasional pada tahun 1980 sekitar 30% menurun menjadi 9.8% pada tahun 1998. Namun prevalensi pada propinsi-propinsi tertentu masih cukup tinggi, misalnya di NTT 38.1%, Maluku 33.3%, Sulawesi Tenggara 24.9%, dan Sumatra Barat 20.5%. Propinsi NTT dan Maluku dikategorikan mempunyai masalah GAKI yang berat, Sulawesi Tenggara dan Sumatra Barat dikategorikan mempunyai masalah GAKI sedang, sedangkan propinsi-propinsi yang lain mempunyai masalah GAKI ringan atau tidak mempunyai masalah GAKI (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003). b. Penyebab Gangguan Akibat Kekurangan Iodium Penyebab utama GAKI adalah karena air, makanan yang berasal dari tumbuhtumbuhan dan binatang pada daerah tertentu sedikit mengandung Iodium. Iodium yang terdapat pada tanah tersebut tercuci oleh gletsier, banjir atau hujan. Kekurangan Iodiumdapat disebabkan oleh banjir, sebagai contoh di sepanjang sungai Gangga di Banglades dan India. Pada daerah ini terjadi defisiensi kekurangan Iodium yang endemik karena air, tanaman dan binatang yang hidup disini sedikit mengandung Iodium. Penyebab lain dari kekurangan Iodium adalah banyak makanan yang dikonsumsi di negara-negara berkembang mengandung zat goitrogenik yaitu suatu zat yang menghambat penyerapan Iodium oleh tiroid. Contohnya adalah zat goitrogenik yang terdapat didalam ubi kayu, untuk menghilangkan zat tersebut ubi kayu harus direndam dahulu di dalam air. Di Sarawak Malaysia, konsumsi ubi kayu berhubungan dengan kejadian gondok dan kretin. Beberapa zat gizi diindikasikan berhubungan dengan kekurangan Iodium yaitu Selenium dan Besi. Selenium merupakan komponen yang penting untuk enzim yang merubah tiroksin (T3) menjadi triiodotironin (T4), sehingga kekurangan Selenium dan Iodium dapat menyebabkan gondok. Kekurangan besi dapat menyebabkan kerusakanmetabolisme hormon tiroid, sehingga orang yang menderita gondok dan anemia kurang responsif jika diberikan Iodium. c. Konsekuensi dari Gangguan Akibat Kekurangan Iodium Beberapa konsekuensi dari kekurangan Iodium adalah kretin, gondok, kerusakan perkembangan kognitif yang tidak dapat diperbaiki, meningkatkan angka kesakitan dan kematian. 1) Kretin adalah hasil dari kekurangan Iodium selama kehamilan, yang mempengaruhi fungsi tiroid janin. Kerusakan otak janin diperkirakan terjadi ketika kekurangan Iodium pada trisemester I kehamilan. Ciri-ciri kretin karena kerusakan saraf adalah kemampuan kognitif yang rendah, tuli, dan ganguan bicara. 2) Gondok merupakan pembesaran kelenjar tiroid pada leher. Gondok biasanya tidak menyakitkan, namun adanya gondok menunjukkan bahwa sedang terjadi kerusakanlain dari kekurangan Iodium. 3) Kerusakan fungsi kognitif. Kekurangan Iodium merupakan penyebab nomor satu kerusakan otak dan kemunduran mental yang sebenarnya dapat dicegah. Masalahnya berkisar dari perubahan saraf sampai kerusakan fungsi kognitf. Hasil dari meta analisis dari 18 penelitian yang meliputi 2214 subjek menunjukkan ratarata kognitif dan psikomotor anak-anak yang kekurangan Iodium lebih redah 13.5 IQ poin dibandingkan anak yang normal. Masalahnya diperberat dengan lingkungan yang terdiri dari orang-orang tidak cerdas, apatis, tidak ada motivasi sebagai akibat dari kekurangan Iodium. 4) Meningkatkan kesakitan dan kematian. Kekurangan Iodium pada masa hamil berhubungan dengan kejadian bayi lahir mati, aborsi dan kelainan congenital. 2.2.4 Kurang Energi Protein (KEP) • Adalah penyakit gizi akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama. • Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki) • Pada derajat ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal malnutrition) • Derajat berat adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor • Terdapat gangguan pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas. a. Penyebab • Masukan makanan atau kuantitas dan kualitas rendah • Gangguan sistem pencernaan atau penyerapan makanan • Pengetahuan yang kurang tentang gizi • Konsep klasik diet cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor • Diet kurang energi walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan marasmus • Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI • Terjadi karena kemiskinan sehingga timul malnutrisi dan infeksi b. Gejala klinis KEP ringan • Pertumbuhan mengurang atau berhenti • BB berkurang, terhenti bahkan turun • Ukuran lingkar lengan menurun • Maturasi tulang terlambat • Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun • Tebal lipat kulit normal atau menurun • Aktivitas dan perhatian kurang • Kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan c. Pembagian 1. Marasmus 2. Kwashiorkor 3. Marasmus-kwashiorkor 1. Marasmus Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi “kurus” dan “emosional”. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau terjadi pada bayi yang sering diare. a. Penyebab • Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan • Kebiasaan makanan yang tidak layak • Penyakit-penyakit infeksi saluran pencernaan b. Tanda dan gejala • Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus • Mata besar dan dalam, sinar mata sayu • Mental cengeng • Feces lunak atau diare • Rambut hitam, tidak mudah dicabut • Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang • Kulit keriput, dingin, kering dan mengendur • Torax atau sela iga cekung • Atrofi otot, tulang terlihat jelas • Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya • Frekuensi nafas berkurang • Kadar Hb berkurang • Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin 2. Kwashiorkor Kwashiokor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.Meski penyebab utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara. a. Penyebab • Kekurangan protein dalam makanan • Gangguan penyerapan protein • Kehilangan protein secara tidak normal • Infeksi kronis • Perdarahan hebat b. Tanda dan gejala • Wajah seperti bulan “moon face” • Pertumbuhan terganggu • Sinar mata sayu • Lemas-lethargi • Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis) • Rambut merah, jarang, mudah dicabut • Jaringan lemak masih ada • Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput) • Iga normal-tertutup oedema • Atrofi otot • Anoreksia • Diare • Pembesaran hati • Anemia • Sering terjadi acites • Oedema Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor Penatalaksanaan a. Secara umum • Ruangan cukup hangat dan bersih • Posisi tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus) • Pencegahan infeksi nosokomial • Penimbangan BB tiap hari b. Secara khusus Resusitasi dan terapi komplikasi • Koreksi dehidrasi dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus) • Mencegah atau mengobati defisiensi vitamin A • Terapi Ab bila ada tanda infeksi atau sakit berat Dietetik • Prinsip TKTP dan suplemen vitamin mineral • Bentuk makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering) • Pemantauan masukan makanan tiap hari (perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat) Persiapan pulang • Gejala klinik tidak ada • Nafsu makan baik • Pembekalan terhadap orang tua tentang gizi, perilaku hidup dan lingkungan yang sehat Komplikasi • Infeksi saluran pencernaan • Defisiensi vitamin • Depresi mental Program pemerintah –penanggulangan KEP Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama • Ibu hamil • Bayi • Balita • Anak-anak sekolah dasar Keterpaduan kegiatan • Penyuluhan gizi • Peningkatan pendapatan • Peningkatan pelayanan kesehatan • Keluarga berencana • Peningkatan peran serta masyarakat Kegiatan Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui keluarga, dasawisma dan posyandu Penanganan secara khusus KEP berat • Rujukan pelayanan gizi di posyandu • Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi • ASI eksklusif 2.2.5 OBESITAS • adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh. • Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh • Gizi lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik dengan obesitas BB >>> tidak selalu obesitas

a. Penyebab
• Perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan
• Aktifitas fisik yang rendah
• Gangguan psikologis (bisa sebagai sebab atau akibat)
• Laju pertumbuhan yang sangat cepat
Genetik atau faktor keturunan
• Gangguan hormon
b. Gejala
• Terlihat sangat gemuk
• Lebih tinggi dari anak normal seumur
• Dagu ganda
• Buah dada seolah-olah berkembang
• Perut menggantung
• Penis terlihat kecil
Terdapat 2 golongan obesitas
• Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
• Obesitas metabolik, yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat
c. Resiko/dampak obesitas
• Gangguan respon imunitas seluler
• Penurunan aktivitas bakterisida
• Kadar besi dan seng rendah

d. Penatalaksanaan
• Menurunkan BB sangat drastis dapat menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas sedang, adakalanya penderita tidak memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga latihan fisik yang intensif menjadi pilihan utama
• Pada obesitas berat selain latihan fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi dikurangi, dan tubuh mengambil kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan, dimana diet harus tetap mengandung zat gizi esensial.
• Kurangi asupan energi, akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah perilaku makan
• Mengatasi gangguan psikologis
• Meningkatkan aktivitas fisik
• Membatasi pemakaian obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
• Bila terdapat komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah sakit
• Konsultasi (psikologi anak atau bagian endokrin)








BAB III
ISI

3.1 Prinsip Gizi Seimbang pada Bayi
Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan/ pendamping ASI. Banyaknya ASI yang dihasilkan ibu tergantung dari status gizi ibu, makanan tambahan sewaktu hamil/ menyusui, stress mental dan sebagainya. Dianjurkan untuk memberi 100-110 Kkal energi tiap kgBB/ hari. Oleh karena itu, susu bayi mengandung kurang lebih 67 Kkal tiap 100 cc. Maka bayi diberikan 150-160 cc susu tiap kgBB. Tetapi tidak semua bayi memerlukan jumlah energi tersebut.
3.2 Macam-Macam Makanan Bayi
Makanan bayi beraneka ragam macamnya yaitu :
3.2.1. ASI ( Air Susu Ibu)
Makanan yang paling baik untuk bayi segera lahir adalah ASI. ASI mempunyai keunggulan baik ditinjau segi gizi, daya kekebalan tubuh, psikologi, ekonomi dan sebagainya.
a. Manfaat ASI
1) Ibu
Aspek kesehatan ibu : isapan bayi akan merangsang terbentukny oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin akan membantu involusi uterus dan mencegah terjadi perdarahan post partum. Penundaan haid dan berkurangnya perdarahan post partum mengurangi prevalensi anemia zat besi. Selain itu, mengurangi angka kejadian karsinoma mammae.
Aspek keluarga berencana : merupakan KB alami, sehingga dapat menjarangkan kehamilan. Menurut penelitian, rerata jarak kehamilan pada ibu yang menyusui adalah 24 bulan, sedangkan yang tidak 11 bulan.
Aspek psikologis : ibu akan merasa bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat menyusui.
2) Bayi
Nutrien (zat gizi) yang sesuai untuk bayi : mengandung lemak, karbohidrat, protein, garam dan mineral serta vitamin.
Mengandung zat protektif : terdapat zat protektif berupa laktobasilus bifidus,laktoferin, lisozim, komplemen C3 dan C4, faktor antistreptokokus, antibodi, imunitas seluler dan tidak menimbulkan alergi.
Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan : sewaktu menyusui kulit bayi akan menempel pada kulit ibu, sehingga akan memberikan manfaat untuk tumbuh kembang bayi kelak. Interaksi tersebut akan menimbulkan rasa aman dan kasih sayang.
Menyebabkan pertumbuhan yang baik : bayi yang mendapat ASI akan mengalami kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik dan mengurangi obesitas.
Mengurangi kejadian karies dentis : insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena menyusui dengan botol dan dot pada waktu tidur akan menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan gigi menjadi asam sehingga merusak gigi.
Mengurangi kejadian maloklusi : penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot.
3) Keluarga
Aspek ekonomi : ASI tidak perlu dibeli dan karena ASI bayi jarang sakit sehingga dapat mengurangi biaya berobat.
Aspek psikologis : kelahiran jarang sehingga kebahagiaan keluarga bertambah dan mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.
Aspek kemudahan : menyusui sangat praktis sehingga dapat diberikan dimana saja dan kapan saja serta tidak merepotkan orang lain.
4) Negara
Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.
Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta angka kesakitan dan kematian menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, seperti diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.
Dengan adanya rawat gabung maka akan memperpendek lama rawat inap ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya perawatan anak sakit.
Mengurangi devisa untuk membeli susu formula.
ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan akan menghemat devisa sebesar Rp 8,6 milyar untuk membeli susu formula.
Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
Anak yang dapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin.
b. Komposisi ASI
Komposisi ASI tidak sama dari waktu ke waktu, hal ini berdasarkan pada stadium laktasi. Komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1) Kolustrum : ASI yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga setelah bayi lahir.
2) ASI transisi : ASI yang dihasilkan mulai hari keempat sampai hari ke sepuluh.
3) ASI mature : ASI yang dihasilkan mulai hari kesepuluh sampai dengan seterusnya.
Tabel 1. Komposisi Kandungan ASI
Kandungan Kolustrum Transisi ASI mature
Energi (kg kla) 57,0 63,0 65,0
Laktosa (gr/ 100 ml) 6,5 6,7 7,0
Lemak (gr/ 100 ml) 2,9 3,6 3,8
Protein (gr/ 100 ml) 1,195 0,965 1,324
Mineral (gr/ 100 ml) 0,3 0,3 0,2
Immunoglubin :
Ig A (mg/ 100ml)
Ig G (mg / 100 ml)
Ig M (mg/ 100 ml) 335,9
5,9
17,1 -
-
- 119,6
2,9
2,9
Lisosin (mg/ 100 ml) 14,2-16,4 - 24,3-27,5
Laktoferin 420-520 - 250-270
Sumber : Pelatihan Manajemen Laktasi, RSCM, 1989.
c. Kecukupan ASI
Untuk mengetahui kecukupan ASI dapat dilihat dari :
1) Berat badan waktu lahir telah tercapai sekurang-kurangnya akhir 2 minggu setelah lahir dan selama itu tidak terjadi penurunan berat badan lebih 10 %.
2) Kurve pertumbuhan berat badan memuaskan, yaitu menunjukkan berat badan pada triwulan ke 1: 150-250 gr setiap minggu, triwulan ke 2 : 500-600 gr setiap bulan, triwulan ke 3 : 350-450 gr setiap bulan, triwulan ke 4 :250-350 gr setiap bulan atau berat badan naik 2 kali lipat berat badan waktu lahir pada umur 4-5 bulan dan 3 kali lipat pada umur satu tahun.
3) Bayi lebih banyak ngompol, sampai 6 kali atau lebih dalam sehari.
4) Setiap kali menyusui, bayi menyusu dengan rakus, kemudian melemah dan tertidur.
5) Payudara ibu terasa lunak setelah menyusui.
3.2.2. MPASI ( Makanan Pendamping ASI)
Makanan pendamping ASI (MPASI) diberikan setelah bayi berumur 6 bulan.
a. Jenis MPASI diantaranya:
 Buah-buahan yang dihaluskan/ dalam bentuk sari buah. Misalnya pisang Ambon, pepaya , jeruk, tomat.
 Makanan lunak dan lembek. Misal bubur susu, nasi tim.
 Makanan bayi yang dikemas dalam kaleng/ karton/ sachet.

b. Tujuan pemberian makanan tambahan pendamping ASI adalah :
 Melengkapi zat gizi ASI yang sudah berkurang.
 Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai rasa dan bentuk.
 Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.
 Mencoba adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi tinggi.

c. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian MPASI :
 Perhatikan kebersihan alat makan.
 Membuat makanan secukupnya.
 Berikan makanan dengan sebaik-baiknya.
 Buat variasi makanan.
 Ajak makan bersama anggota keluarga lain.
 Jangan memberi makanan dekat dengan waktu makan.
 Makanan berlemak menyebabkan rasa kenyang yang lama.




3.3 Cara Pengelolaan Makanan Bayi
Bayi setelah lahir sebaiknya diberikan ASI, namun seiring dengan tumbuh kembang diperlukan makanan pendamping AS.

Tabel 2. Definisi Pemberian Makanan Bayi
Pemberian ASI Eksklusif
(Exclusive breastfeeding) Bayi hanya diberikan ASI tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih, kecuali obat, vitamin dan mineral dan ASI yang diperas.
Pemberian ASI Predominan
(Predominant breastfeeding) Selain mendapat ASI, bayi juga diberi sedikit air minum, atau minuman cair lain, misal air teh.
Pemberian ASI Penuh
(Full breastfeeding) Bayi mendapat salah satu ASI eksklusif atau ASI predominan.

Pemberian Susu Botol
(Bottle feeding) Cara pemberian makan bayi dengan susu apa saja, termasuk juga ASI diperas dengan botol.
Pemberian ASI Parsial
(Artificial feeding) Sebagian menyusui dan sebagian lagi susu buatan/ formula atau sereal atau makanan lain.
Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) tepat waktu (Timely complementary feeding) Memberikan bayi makanan lain disamping ASI ketika waktunya tepat yaitu mulai 6 bulan.


Tabel 3. Rekomendasi Pemberian Makanan Bayi
Mulai menyusui Dalam waktu 30-60 menit setelah melahirkan.
Menyusui eksklusif Umur 0-6 bulan pertama.
Makanan pendamping ASI (MPASI) Mulai diberikan pada umur antara 4-6 bulan (umur yang tepat bervariasi, atau bila menunjukkan kesiapan neurologis dan neuromuskuler).
Berikan MPASI Pada semua bayi yang telah berumur lebih dari 6 bulan.
Teruskan pemberian ASI Sampai anak berumur 2 tahun atau lebih.

Tabel 4. Jadwal Pemberian Makanan pada Bayi
Umur Macam makanan Pemberian selama 24 jam
1-2 minggu
3 mg s/d 3 bulan
3 bulan
4-5 bulan
6 bulan
7-12 bulan ASI atau
Formula adaptasi
ASI atau
Formula adaptasi
ASI atau
Formula adaptasi
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Nasi tim
Jus buah Sesuka bayi
6-7 kali 90 ml
Sesuka bayi
6 kali 100-150 ml
Sesuka bayi
5 kali 180 ml
1-2 kali 50-75 ml
Sesuka bayi
4 kali 180 ml
1 x 40-50 g bubuk
1 kali 50-100 ml
Sesuka bayi
3 kali 180-200 ml
2 x 40-50 g bubuk
1 kali 50-100 ml
Sesuka bayi
2 kali 200-250 ml
2x 40- 50 g bubuk
1 x 40-50 g bubuk
1-2 kali 50-100 ml
Sumber: Ilmu Gizi Klinis Pada Anak, 2000

3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian Makanan pada Bayi
Hal-hal yang perlu diperhatikan supaya pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan baik adalah sebagai berikut :
1. Kerjasama ibu dan anak.
Dimulai pada saat kelahiran bayi dilanjutkan sampai dengan anak mampu makan sendiri. Makanan hendaknya menyenangkan bagi anak dan ibu. Ibu yang tegang, cemas, mudah marah merupakan suatu kecenderungan untuk menimbulkan kesulitan makan pada anak.
2. Memulai pemberian makan sedini mungkin.
Pemberian makan sedini mungkin mempunyai tujuan menunjang proses metabolisme yang normal, untuk pertumbuhan, menciptakan hubungan lekat ibu dan anak, mengurangi resiko terjadinya hipoglikemia, hiperkalemi, hiperbilirubinemia dan azotemia.


3. Mengatur sendiri.
Pada awal kehidupannya, seharusnya bayi sendiri yang mengatur keperluan akan makanan. Keuntungannya untuk mengatur dirinya sendiri akan kebutuhan zat gizi yang diperlukan.
4. Peran ayah dan anggota keluarga lain.
5. Menentukan jadwal pemberian makanan bayi.
6. Umur.
7. Berat badan.
8. Diagnosis dari penyakit dan stadium (keadaan).
9. Keadaan mulut sebagai alat penerima makanan.
10. Kebiasaan makan (kesukaan, ketidaksukaan dan acceptability dari jenis makanan dan toleransi daripada anak terhadap makanan yang diberikan).

3.5 Pengaruh Status Gizi Seimbang Bagi Bayi
Tumbuh kembang anak selain dipengaruhi oleh faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Adapun faktor lingkungan yang berpengaruh adalah masukan makanan (diet), sinar matahari, lingkungan yang bersih, latihan jasmani dan keadaan kesehatan. Pemberian makanan yang berkualitas dan kuantitasnya baik menunjang tumbuh kembang, sehingga bayi dapat tumbuh normal dan sehat/ terbebas dari penyakit.
Makanan yang diberikan pada bayi dan anak akan digunakan untuk pertumbuhan badan, karena itu status gizi dan pertumbuhan dapat dipakai sebagai ukuran untuk memantau kecukupan gizi bayi dan anak. Kecukupan makanan dan ASI dapat dipantau dengan menggunakan KMS. Daerah diatas garis merah dibentuk oleh pita warna kuning, hijau muda, hijau tua, hijau muda dan kuning. Setiap pita mempunyai nilai 5 % perubahan baku. Diatas kurve 100 % adalah status gizi lebih. Diatas 80 % sampai dengan batas 100 % adalah status gizi normal, yang digambarkan oleh pita warna hijau muda sampai hijau tua.

3.6 Dampak Kelebihan dan Kekurangan Gizi pada Bayi
Makanan yang ideal harus mengandung cukup energi dan zat esensial sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Pemberian makanan yang kelebihan akan energi mengakibatkan obesitas, sedang kelebihan zat gizi esensial dalam jangka waktu lama akan menimbulkan penimbunan zat gizi tersebut dan menjadi racun bagi tubuh. Misalnya hipervitaminosis A, hipervitaminosis D dan hiperkalemi.
Sebaliknya kekurangan energi dalam jangka waktu lama berakibat menghambat pertumbuhan dan mengurangi cadangan energi dalam tubuh sehingga terjadi marasmus (gizi kurang/ buruk). Kekurangan zat esensial mengakibatkan defisiensi zat gizi tersebut. Misalnya xeroftalmia (kekurangan vit.A), Rakhitis (kekurangan vit.D).
















BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Masalah gizi merupakan hal yang komplek di Indonesia. Sampai saat ini ada lima masalah gizi utama di Indonesia, yaitu Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dan Obesitas. Energi dan protein merupakan zat gizi makro, sedangkan zat besi, vitamin A dan Iodium merupakan zat gizi mikro. Banyak faktor yang mempengaruhi asupan gizi masyarakat tersebut.
Gizi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan pada bayi untuk itu ada beberapa prinsip gizi seimbang pada bayi yaitu, makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan/pendamping ASI. Selain itu ada Hal-hal yang perlu diperhatikan supaya pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan baik. Jika asupan gizi pada bayi tidak diperhatikan dengan baik juga dapat menyebabkan dampak kelebihan dan kekurangan gizi pada bayi.

1 komentar:

  1. salam kenal pemburu cintamu alwaysss...thanks oke kok blog km..i like..

    BalasHapus